Menapaki Masa Emerging Adulthood: Kecemasan, Kebahagiaan, dan Peran Religiusitas

 

Menapaki Masa Emerging Adulthood: Kecemasan, Kebahagiaan, dan Peran Religiusitas

Pendahuluan: Menghadapi Transisi Menuju Kedewasaan

Masa peralihan dari remaja menuju dewasa atau yang dikenal sebagai emerging adulthood adalah fase yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Mahasiswa yang berada dalam fase ini kerap mengalami kebimbangan terkait masa depan, baik dalam aspek karier, pendidikan, maupun kehidupan pribadi. Banyak yang merasa belum sepenuhnya dewasa, tetapi juga tidak lagi bisa disebut sebagai remaja.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Qolbi, Chotijah, dan Musthofa (2020), terungkap bahwa kecemasan terhadap masa depan menjadi faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif mahasiswa tingkat akhir. Namun, apakah religiusitas mampu menjadi penyeimbang dari kecemasan tersebut?


Kecemasan Masa Depan dan Dampaknya pada Kesejahteraan Mahasiswa

Bagi mahasiswa tingkat akhir, kecemasan akan masa depan adalah sesuatu yang wajar. Tekanan akademik, persiapan memasuki dunia kerja, serta ekspektasi sosial sering kali menimbulkan perasaan tidak menentu. Studi ini menemukan bahwa semakin tinggi kecemasan terhadap masa depan, semakin rendah tingkat kesejahteraan subjektif yang dirasakan oleh mahasiswa.

Kesejahteraan subjektif sendiri mencerminkan sejauh mana seseorang merasa puas dengan hidupnya dan memiliki emosi positif. Mahasiswa yang terlalu cemas cenderung mengalami stres berkepanjangan, sulit merasa bahagia, dan rentan terhadap gangguan psikologis lainnya.


Peran Religiusitas dalam Mengatasi Kecemasan

Dalam banyak penelitian sebelumnya, religiusitas sering dianggap sebagai faktor yang mampu meredam kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan seseorang. Kepercayaan kepada Tuhan, doa, dan ibadah diyakini memberikan ketenangan serta sudut pandang positif dalam menghadapi masa depan.

Namun, hasil dari penelitian ini cukup mengejutkan. Ditemukan bahwa religiusitas Islam tidak berperan secara signifikan dalam mengurangi dampak kecemasan terhadap kesejahteraan subjektif mahasiswa. Dengan kata lain, meskipun seseorang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi, hal itu belum tentu membuatnya lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.

Mengapa demikian? Ada beberapa kemungkinan penjelasan:

  1. Pemaknaan Religiusitas yang Berbeda – Tidak semua individu memahami religiusitas sebagai alat coping dalam menghadapi stres. Bagi sebagian orang, religiusitas mungkin hanya sebatas kepatuhan terhadap aturan agama tanpa benar-benar memberikan ketenangan psikologis.
  2. Lingkungan Sosial – Jika seseorang berada di lingkungan yang penuh tekanan, religiusitas mungkin tidak cukup untuk mengurangi kecemasan. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan komunitas juga sangat berperan dalam menentukan kesejahteraan seseorang.
  3. Faktor Lain yang Lebih Berpengaruh – Kesejahteraan subjektif dipengaruhi oleh banyak hal, seperti kondisi ekonomi, pencapaian akademik, serta tingkat kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan hidup.

Bagaimana Cara Mengelola Kecemasan di Masa Emerging Adulthood?

Meskipun penelitian ini menunjukkan bahwa religiusitas tidak berperan sebagai moderator kecemasan terhadap kesejahteraan, bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasi kecemasan masa depan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Mengelola Ekspektasi – Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana, dan itu tidak masalah. Belajar menerima ketidakpastian adalah bagian dari proses menuju kedewasaan.

Meningkatkan Dukungan Sosial – Jangan ragu untuk berbagi kekhawatiran dengan teman, keluarga, atau mentor. Dukungan emosional dapat membantu mengurangi kecemasan.

Mempraktikkan Mindfulness dan Relaksasi – Teknik pernapasan, meditasi, atau sekadar mengambil waktu untuk refleksi diri dapat membantu menenangkan pikiran.

Menggunakan Religiusitas Sebagai Coping Strategy – Jika religiusitas menjadi bagian penting dalam hidup, cobalah menggunakannya sebagai alat untuk menemukan makna dan ketenangan dalam menghadapi tantangan hidup.

Membuat Rencana Jangka Pendek – Daripada terlalu fokus pada ketidakpastian masa depan, cobalah buat rencana kecil yang lebih mudah dicapai. Ini bisa memberikan rasa kontrol atas hidup.


Kesimpulan

Masa emerging adulthood memang penuh dengan tantangan, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir yang mulai menghadapi realitas kehidupan setelah kuliah. Kecemasan akan masa depan dapat menurunkan kesejahteraan subjektif, dan meskipun religiusitas sering dianggap sebagai penyeimbang, penelitian ini menunjukkan bahwa perannya tidak selalu signifikan dalam meredakan kecemasan.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa religiusitas tidak bermanfaat. Setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi tantangan hidup. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengelola kecemasan dan tetap menjaga kesejahteraan diri, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.

Sumber:
Qolbi, F. H., Chotijah, S., & Musthofa, A. (2020). Masa emerging adulthood pada mahasiswa: Kecemasan akan masa depan, kesejahteraan subjektif, dan religiusitas Islam. Psikoislamika: Jurnal Psikologi Dan Psikologi Islam, 17(1), 44.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Haya’: Rasa Malu dalam Perspektif Islam dan Cara Mengukurnya

Mengukur Tingkat Religiusitas Muslim di Indonesia: Seperti Apa Caranya?

Psikologi Agama: Kunci Membangun Pribadi yang Tangguh dan Berjiwa Besar