Kritik Malik Badri terhadap Psikologi Modern: Mengapa Psikologi Islam Dibutuhkan?

.


Kritik Malik Badri terhadap Psikologi Modern: Mengapa Psikologi Islam Dibutuhkan?

Dalam dunia psikologi modern, dua aliran besar mendominasi cara manusia memahami kejiwaan: psikoanalisa yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud dan behaviourisme yang dikembangkan oleh John B. Watson. Kedua aliran ini banyak digunakan di berbagai universitas, termasuk di negara-negara Islam. Namun, apakah teori-teori ini benar-benar cocok untuk memahami manusia secara utuh?

Seorang tokoh psikologi Islam, Prof. Malik Badri, mengkritik tajam pendekatan psikologi Barat ini. Menurutnya, kedua aliran ini terlalu materialistis, mengabaikan aspek spiritual, dan bahkan cenderung ateis. Lantas, bagaimana pandangan beliau terhadap psikologi modern dan apa solusinya?

Mengapa Psikologi Barat Bermasalah?

1. Psikoanalisa: Manusia Dikendalikan oleh Libido?

Sigmund Freud berpendapat bahwa dorongan seksual adalah penggerak utama perilaku manusia. Dalam teorinya, manusia memiliki tiga sistem kepribadian:

  • Id (dorongan biologis dan nafsu),
  • Ego (kesadaran terhadap realitas),
  • Superego (norma sosial dan moral).

Freud juga mengembangkan konsep seperti Oedipus Complex, yang menyatakan bahwa seorang anak memiliki dorongan seksual terhadap orang tua yang berlawanan jenis. Konsep ini sangat kontroversial dan dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan moralitas.

Bagi Malik Badri, psikoanalisa sangat reduksionis karena menganggap manusia sebagai makhluk yang dikendalikan oleh dorongan biologis semata. Selain itu, teori ini juga menolak peran agama dalam kesehatan mental. Freud bahkan menyebut agama sebagai "ilusi" dan "neurosis universal umat manusia".

2. Behaviourisme: Manusia Seperti Robot?

Sementara itu, behaviourisme memiliki pendekatan berbeda. Aliran ini berpendapat bahwa semua perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan dan pengalaman belajar. Tokoh utama dalam aliran ini, John B. Watson dan B.F. Skinner, percaya bahwa manusia seperti mesin yang bisa diprogram melalui stimulus dan respon.

Metode behaviourisme didasarkan pada eksperimen dengan hewan, seperti anjing Pavlov atau burung merpati dalam "Skinner Box". Temuan mereka diterapkan pada manusia dengan asumsi bahwa manusia tidak lebih dari sekadar makhluk yang bereaksi terhadap lingkungannya.

Bagi Malik Badri, pandangan ini sangat menyesatkan karena mengabaikan peran akal, hati, dan spiritualitas dalam kehidupan manusia. Jika manusia hanya bereaksi terhadap lingkungan, di mana tempatnya nilai-nilai moral, keimanan, dan kehendak bebas?

Mengapa Psikologi Islam Diperlukan?

Sebagai solusi, Malik Badri menekankan pentingnya psikologi Islam—sebuah pendekatan yang mengakui aspek spiritual dalam diri manusia. Menurutnya, manusia bukan sekadar kumpulan dorongan biologis atau reaksi terhadap lingkungan, tetapi makhluk yang memiliki fitrah baik dan diberikan akal serta hati nurani untuk memilih jalan yang benar.

Psikologi Islam mengacu pada prinsip-prinsip dalam Al-Qur'an dan Hadis serta warisan keilmuan para ulama klasik seperti Al-Ghazali dan Ibnu Sina. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan faktor-faktor psikologis, tetapi juga memasukkan unsur keimanan dan hubungan manusia dengan Tuhan dalam proses penyembuhan dan pengembangan diri.

Kesimpulan: Saatnya Beralih ke Psikologi yang Lebih Holistik

Malik Badri mengajak para ilmuwan Muslim untuk bersikap kritis terhadap psikologi Barat dan tidak serta-merta menelannya mentah-mentah. Psikologi Islam menawarkan perspektif yang lebih holistik dan sesuai dengan fitrah manusia, di mana aspek spiritual tidak diabaikan.

Jadi, jika kita ingin memahami manusia secara utuh, kita tidak bisa hanya mengandalkan teori-teori psikologi yang sekuler dan materialistis. Sudah saatnya kita menggali kembali konsep-konsep psikologi Islam yang lebih sesuai dengan nilai-nilai kehidupan dan keimanan kita.


Sumber:
Arroisi, J., Alfiansyah, I. M., & Perdana, M. P. (2021). Psikologi Modern Perspektif Malik Badri (Analisis Kritis atas Paradigma Psikoanalisa dan Behaviourisme). Al-Qalb: Jurnal Psikologi Islam, 12(1), 1-13.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Al-Haya’: Rasa Malu dalam Perspektif Islam dan Cara Mengukurnya

Mengukur Tingkat Religiusitas Muslim di Indonesia: Seperti Apa Caranya?

Psikologi Agama: Kunci Membangun Pribadi yang Tangguh dan Berjiwa Besar